Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Inovasi Benwit (Bensin Sawit) Karya ITS: Solusi Krisis Energi Nasional yang Didukung Penuh Kementan

Inovasi Benwit (Bensin Sawit) Karya ITS: Solusi Krisis Energi Nasional yang Didukung Penuh Kementan

Inovasi Benwit (Bensin Sawit) Karya ITS: Solusi Krisis Energi Nasional yang Didukung Penuh Kementan

Sobat Berita - Ketergantungan Indonesia dan dunia terhadap bahan bakar fosil terus menjadi bom waktu. Dengan cadangan minyak bumi yang kian menipis dan harga minyak mentah dunia yang sangat fluktuatif, mencari sumber energi alternatif yang mandiri dan terbarukan bukanlah sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan.

Di tengah berbagai tantangan global tersebut, kami di Sobat Berita | Sahabat Informasi Terpercaya Setiap Hari selalu berkomitmen untuk menyajikan kabar inovatif yang membawa angin segar bagi kemajuan bangsa. Kali ini, sebuah terobosan revolusioner datang dari para akademisi di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Mereka berhasil mengembangkan bensin berbahan dasar minyak kelapa sawit yang diberi nama "Benwit" (Bensin Sawit).

Lantas, bagaimana cara kerja teknologi ini dan mengapa Menteri Pertanian meresponsnya dengan sangat antusias? Mari kita bedah lebih dalam.

Apa Itu Benwit? Mengubah Minyak Nabati Menjadi "Emas Cair"

Benwit adalah bahan bakar biogasoline rendah emisi yang dirancang khusus sebagai energi alternatif ramah lingkungan. Proyek penelitian yang didanai oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit ini dipimpin oleh Hosta Ardhyananta, seorang dosen dan pakar Teknik Material dan Metalurgi ITS.

Tantangan utama yang coba dipecahkan oleh Hosta dan timnya adalah bagaimana mengubah Crude Palm Oil (CPO) atau minyak kelapa sawit mentah—yang secara alami memiliki tekstur padat dan kental—menjadi cairan bensin yang ringan, mudah terbakar, dan siap disalurkan ke dalam tangki kendaraan bermotor maupun mesin industri.

Dapur Inovasi: Mengupas Teknologi Catalytic Cracking

Untuk menyulap minyak kelapa sawit menjadi bensin, tim ITS menggunakan sebuah metode mutakhir yang disebut catalytic cracking. Bagi masyarakat awam, Anda bisa membayangkan proses ini seperti menggunakan "gunting molekuler" berukuran nano. Molekul-molekul besar dan kompleks dalam CPO dipotong sedemikian rupa menjadi molekul yang jauh lebih kecil.

Awalnya, tim peneliti menggunakan katalis berbahan dasar alumina (γ-AlO). Meski berhasil memecah trigliserida CPO menjadi fraksi hidrokarbon ringan dengan tingkat keberhasilan (konversi) 60 persen, metode ini memiliki kelemahan: prosesnya menuntut suhu operasi yang sangat ekstrem, yakni mencapai 420 derajat Celsius. Tentu saja, memanaskan reaktor hingga suhu tersebut membutuhkan biaya energi yang tidak sedikit.

Namun, inovasi tidak berhenti di sana. Tim ITS kemudian meracik formula baru dengan menghadirkan katalis bimetalik, yakni kombinasi antara nikel oksida (NiO) dan tembaga oksida (CuO) dengan takaran yang sangat seimbang.

  • Nikel Oksida (NiO) bertugas secara agresif memutus rantai karbon yang panjang.

  • Tembaga Oksida (CuO) berperan untuk menyingkirkan kandungan oksigen di dalamnya.

Fakta Menarik: Berkat kombinasi sinergis ini, keajaiban kimiawi terjadi! Suhu operasi berhasil ditekan drastis dari 420 derajat menjadi hanya 380 derajat Celsius. Luar biasanya lagi, rendemen (hasil akhir) biogasoline melonjak pesat hingga mencapai 83 persen. Produk yang dihasilkan didominasi oleh hidrokarbon rantai pendek (C5 hingga C11), yang tak lain adalah DNA utama dari bensin komersial yang sehari-hari kita gunakan.

Konsep Zero Waste dan Kemandirian Petani

Keunggulan Benwit tidak hanya terletak pada produk utamanya, tetapi juga pada proses produksinya yang memegang teguh prinsip zero waste atau tanpa limbah.

  1. Gas Sisa Dimanfaatkan Kembali: Proses produksi menghasilkan gas yang tidak dibuang ke udara, melainkan dialirkan kembali untuk menjadi bahan bakar pemanas reaktor itu sendiri.

  2. Residu Cair Jadi Bahan Bakar Kompor: Sisa cairan bertekstur mirip oli atau minyak jelantah dapat didistribusikan kepada masyarakat sebagai bahan bakar alternatif kompor rumah tangga.

Hosta menegaskan, jejak karbon dari produksi Benwit ini sangat rendah, sehingga sangat relevan dengan visi transisi energi bersih global. Saat ini, Benwit telah sukses diujicobakan pada berbagai mesin pertanian. Mesin traktor dan alat tani dipilih karena mesin-mesin ini memiliki toleransi modifikasi yang tinggi.

Lebih dari itu, hal ini membawa misi ekonomi yang mulia: membebaskan petani dari jerat harga bensin fosil yang fluktuatif. Petani kini bisa memproduksi dan menggunakan bahan bakar dari hasil bumi mereka sendiri.

Respons Cepat Mentan: Target Stop Impor Solar 2026

Kabar keberhasilan ITS ini dengan cepat sampai ke telinga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman. Beliau memberikan apresiasi yang luar biasa terhadap kualitas Benwit. Berdasarkan hasil pengujian, kualitas pembakaran Benwit ini diklaim berada di antara BBM jenis Pertalite dan Pertamax.

Mentan Amran menegaskan bahwa inovasi ini adalah kepingan puzzle penting bagi target ambisius pemerintah: menyetop total impor solar pada bulan Juli 2026.

"Kita sudah tidak lagi impor solar per Juli 2026. Nanti akan ada bioetanol dari tebu dan singkong. Nah, ditambah lagi dengan kehadiran Benwit ini yang kualitasnya sangat bagus, masa depan kemandirian energi Indonesia benar-benar cerah," ungkap Amran dengan penuh optimisme. Ia juga mendesak tim ITS agar segera mematenkan inovasi ini agar hak kekayaan intelektualnya terlindungi dari klaim pihak asing.

Hilirisasi Triliunan Rupiah dan Alat Panjat Kelapa ITS

Untuk mewujudkan hilirisasi secara konkret, pemerintah langsung mempertemukan tim ITS dengan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV, salah satu BUMN agribisnis terbesar di tanah air. Kesepakatan awal ini akan diwujudkan dalam bentuk pembangunan pabrik percontohan (pilot project) berskala kecil. Jika stabilitas produk mencapai 100 persen, Amran berjanji akan melaporkannya kepada Presiden untuk diproduksi dalam skala raksasa.

Amran juga menyoroti potensi ekonomi raksasa dari sektor kelapa dan sawit. Jika dikelola maksimal dari hulu ke hilir dengan teknologi tepat guna, potensinya bisa menembus Rp 10.000 triliun.

Sebagai wujud kepercayaan nyata terhadap riset kampus, Kementan juga telah membeli 10 unit "Alat Panjat Kelapa" mekanis hasil inovasi ITS. Alat canggih ini bertujuan menekan angka kecelakaan kerja petani saat memanjat pohon kelapa secara manual, sekaligus menggenjot produktivitas untuk memenuhi tingginya pasar ekspor air kelapa murni dan Virgin Coconut Oil (VCO).

Sinergi Kampus dan Negara untuk Masa Depan

Menyambut dukungan luar biasa tersebut, Rektor ITS, Prof. Bambang Pramujati, memastikan bahwa kampusnya tidak akan menjadi sekadar "menara gading". Guru Besar Teknik Mesin tersebut menjamin bahwa penelitian di ITS akan selalu diarahkan untuk menjawab persoalan riil di masyarakat dan industri.

"ITS akan terus menggandeng pemerintah, salah satunya Kementerian Pertanian, dan pihak industri untuk memastikan inovasi kami benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas," tegas Prof. Bambang.

Inovasi dari ITS ini membuktikan bahwa anak bangsa memiliki kapasitas untuk menyelesaikan masalah energi global jika diberikan ruang dan dukungan yang tepat. Perjalanan Benwit dari skala laboratorium menuju SPBU komersial mungkin masih panjang, namun langkah pertamanya telah dicetak dengan sangat gemilang.

Mari kawal terus perjalanan inovasi anak bangsa! Jangan lewatkan berbagai update berita terkini seputar teknologi, ekonomi, dan inspirasi dari seluruh pelosok negeri. Pastikan Anda mem-bookmark dan berlangganan notifikasi dari Sobat Berita sekarang juga! Bagikan artikel ini kepada rekan dan keluarga Anda agar kita semua semakin bangga dengan karya putra-putri Indonesia. 

 

 

Posting Komentar untuk "Inovasi Benwit (Bensin Sawit) Karya ITS: Solusi Krisis Energi Nasional yang Didukung Penuh Kementan"