Aburizal Bakrie kenang sosok mendiang Juwono Sudarsono: sangat rendah hati dan sopan

Ringkasan Berita:
- Mantan Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono meninggal pada usia 84 tahun.
- Politikus senior Aburizal Bakrie mengenang Juwono sebagai sosok yang sangat rendah hati dan santun.
- Juwono akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.
SOBATBERITA - Politikus senior dari Aburizal Bakrie
menyampaikan kenangan mendalam terhadap sosok almarhum Juwono Sudarsono. Dalam pandangannya, Juwono
bukan hanya seorang pejabat negara yang berpengalaman, tetapi juga pribadi yang
dikenal sangat rendah hati, santun, dan penuh ketenangan dalam setiap
interaksi.
Aburizal, yang akrab disapa Ical, menuturkan
bahwa hubungan keduanya telah terjalin sejak lama. Ia mengenal Juwono sejak
masih aktif sebagai akademisi, jauh sebelum terjun ke dunia pemerintahan.
Kedekatan itu semakin erat ketika keduanya sama-sama dipercaya menjadi menteri
dalam kabinet Presiden ke-6 Indonesia, Susilo
Bambang Yudhoyono. Pengalaman bekerja bersama dalam lingkup pemerintahan
membuat Ical memiliki banyak kesempatan untuk mengamati langsung karakter
Juwono.
Menurut Ical, salah satu hal yang paling
menonjol dari Juwono adalah cara berkomunikasinya yang sangat tenang dan penuh
kesantunan. Ia tidak pernah berbicara dengan nada tinggi atau tergesa-gesa.
Bahkan dalam situasi yang penuh tekanan sekalipun—misalnya saat membahas isu
pertahanan negara yang kompleks—Juwono tetap mampu menyampaikan pendapatnya
dengan jelas, sistematis, dan tetap menghargai lawan bicara. Sikap seperti ini,
menurut Ical, menjadi alasan mengapa Juwono sangat dihormati oleh rekan
sejawatnya, baik di dalam maupun di luar pemerintahan.
Lebih jauh, Ical juga menekankan bahwa
kerendahan hati Juwono bukanlah sesuatu yang dibuat-buat. Dalam keseharian, ia
dikenal sebagai sosok yang mudah didekati, tidak menjaga jarak secara
berlebihan, dan selalu bersikap ramah kepada siapa pun, baik kepada pejabat
tinggi maupun staf biasa. Dalam banyak kesempatan, Juwono bahkan lebih memilih
mendengarkan terlebih dahulu sebelum memberikan tanggapan, sebuah sikap yang
mencerminkan kedewasaan dan kebijaksanaan.
Kabar wafatnya Juwono tentu meninggalkan duka
mendalam. Ical menyampaikan bahwa kepergian tersebut merupakan ketetapan Tuhan
yang harus diterima dengan ikhlas. Ia juga berharap segala kebaikan yang telah
dilakukan almarhum selama hidupnya menjadi jalan untuk mendapatkan tempat
terbaik di sisi Allah SWT. Pernyataan ini mencerminkan bagaimana sosok Juwono
tidak hanya dihormati secara profesional, tetapi juga dihargai secara personal.
Menariknya, meskipun sudah cukup lama tidak bertemu secara langsung, Ical mengaku kesan baik terhadap Juwono tetap melekat kuat dalam ingatannya. Ia menegaskan bahwa penilaiannya bukan sekadar ungkapan duka atau penghormatan setelah wafat, melainkan benar-benar berdasarkan pengalaman nyata selama mengenal almarhum.
Perjuangan Melawan
Penyakit
Juwono Sudarsono menghembuskan napas terakhir
pada usia 84 tahun di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan, pada Sabtu
siang (28/3/2026). Ia wafat setelah menjalani perjuangan panjang melawan
penyakit stroke yang telah dideritanya selama beberapa tahun.
Putra sulungnya, Vishnu Juwono, mengungkapkan bahwa sang ayah
telah mengalami stroke selama kurang lebih empat tahun terakhir. Bahkan,
kondisi tersebut sudah mencapai tahap stroke keempat, yang tentu berdampak
besar pada kesehatan dan aktivitasnya sehari-hari. Akibat kondisi ini, Juwono
tidak lagi aktif tampil di ruang publik dan lebih fokus menjalani proses
pemulihan.
Kasus seperti ini sebenarnya cukup umum
terjadi pada pasien stroke lanjut. Berdasarkan berbagai data medis, stroke
berulang memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap penurunan fungsi tubuh dan
kualitas hidup. Dalam konteks Juwono, hal ini menjelaskan mengapa ia memilih
untuk mengurangi aktivitas publik dan lebih mengutamakan kesehatan.
Jenazah almarhum direncanakan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan, pada Minggu (29/3/2026), sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya kepada negara.
Jejak Kehidupan dan
Karier
Juwono Sudarsono lahir di Ciamis, Jawa Barat,
pada 5 Maret 1942. Ia berasal dari keluarga yang memiliki latar belakang
pemerintahan, di mana ayahnya pernah menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri pada
masa Kabinet Sjahrir II. Lingkungan ini turut membentuk pandangan dan minatnya
terhadap dunia pemerintahan dan kebijakan publik.
Dalam kehidupan pribadinya, Juwono dikenal
sebagai sosok keluarga yang hangat. Ia menikah dengan Priharumastinah Juwono
dan dikaruniai dua orang anak. Salah satunya adalah Vishnu Juwono yang kemudian
mengikuti jejak akademis.
Karier Juwono di pemerintahan terbilang
panjang dan beragam. Ia pernah menduduki berbagai posisi strategis, antara
lain:
- Wakil Gubernur
Lemhanas
- Menteri Negara
Lingkungan Hidup pada tahun 1998
- Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan pada masa awal Reformasi
- Menteri Pertahanan
dalam Kabinet Persatuan Nasional
- Duta Besar Indonesia
untuk Britania Raya
- Menteri Pertahanan
dalam Kabinet Indonesia Bersatu (2004–2009)
Keberagaman posisi ini menunjukkan kapasitasnya yang luas, mulai dari bidang pendidikan, lingkungan, hingga pertahanan. Tidak banyak tokoh yang memiliki pengalaman lintas sektor seperti ini.
Latar Belakang
Pendidikan dan Akademik
Selain sebagai pejabat publik, Juwono juga
merupakan seorang akademisi yang disegani. Ia pernah menjadi Guru Besar Ilmu
Hubungan Internasional di Universitas Indonesia (UI). Perannya sebagai
akademisi memberikan fondasi kuat dalam berpikir kritis dan analitis, yang
kemudian sangat berguna dalam pengambilan kebijakan.
Pendidikan Juwono juga mencerminkan kualitas
global. Ia menempuh studi di berbagai institusi ternama, seperti:
- Universitas Indonesia
- Institute of Social
Studies di Den Haag, Belanda
- University of
California, Berkeley, Amerika Serikat
- London School of
Economics, Inggris
Dengan latar pendidikan internasional ini, Juwono memiliki perspektif global yang sangat penting, terutama saat menangani isu-isu strategis seperti pertahanan dan diplomasi.
Penutup: Warisan Nilai
Kepergian Juwono Sudarsono bukan hanya
kehilangan bagi keluarga, tetapi juga bagi bangsa Indonesia. Ia meninggalkan
warisan berupa keteladanan dalam bersikap, integritas dalam bekerja, serta
dedikasi terhadap negara.
Sosoknya menjadi contoh bahwa jabatan tinggi tidak harus menghilangkan kerendahan hati. Justru, kombinasi antara kecerdasan, pengalaman, dan sikap santun seperti yang dimiliki Juwono adalah kualitas langka yang patut dijadikan teladan bagi generasi penerus.
Posting Komentar untuk "Aburizal Bakrie kenang sosok mendiang Juwono Sudarsono: sangat rendah hati dan sopan"