Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pendapatan GOLF naik 8,9% sepanjang 2025, ditopang lapangan New Kuta Golf Bali

Kinerja Emiten GOLF 2025: Pendapatan Melesat Lewat Inovasi, Mengapa Laba Bersih Justru Turun?

Sobat Berita - JAKARTA. - Industri gaya hidup dan pariwisata golf di Indonesia terus menunjukkan geliat positif. Olahraga yang identik dengan kalangan premium ini tak lagi sekadar hobi, melainkan ekosistem bisnis properti dan hospitality yang bernilai triliunan rupiah. Salah satu pemain utama di sektor ini adalah PT Intra GolfLink Resorts Tbk (GOLF).

Menutup buku tahun 2025, emiten bersandi GOLF ini membagikan rapor keuangannya yang cukup menarik perhatian para investor. Terdapat anomali yang wajar terjadi dalam fase ekspansi perusahaan: pendapatan sukses mencetak rekor pertumbuhan, namun laba bersih justru mengalami penyusutan.

Bagaimana bedah kinerja keuangan PT Intra GolfLink Resorts Tbk sepanjang 2025? Mari kita urai strategi bisnis, tantangan, dan proyeksi masa depan emiten pengelola lapangan golf ini.

1. Mengurai Kinerja Pendapatan GOLF: Bali Jadi Ujung Tombak

Secara garis besar, top line atau pendapatan perseroan menunjukkan tren yang sangat positif. Berdasarkan laporan keuangannya, GOLF berhasil meraup total pendapatan sebesar Rp 215,5 miliar di tahun 2025. Angka ini melonjak 8,9% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan capaian tahun 2024 yang bertengger di angka Rp 197,9 miliar.

Lonjakan Signifikan dari "New Kuta Golf"

Faktor pendorong (katalis) utama dari meroketnya pendapatan perseroan berasal dari proyek andalan mereka di Bali, yakni New Kuta Golf. Proyek mahakarya ini menyumbang porsi raksasa sebesar Rp 182,3 miliar terhadap total pendapatan perusahaan.

Direktur Utama GOLF, Dwi Febri Astuti, menjelaskan bahwa keberhasilan ini tak lepas dari inisiatif peningkatan kualitas secara masif yang dilakukan sepanjang tahun.

"Pendapatan dari segmen golf tumbuh 28,7% yoy menjadi Rp 82,3 miliar, didorong oleh meningkatnya daya tarik New Kuta Golf seiring berbagai inisiatif peningkatan kualitas lapangan dan kawasan yang dilakukan perseroan." — Dwi Febri Astuti (Jumat, 27/3/2026).

Rincian Kontribusi Pendapatan Proyek New Kuta Golf (2025):

Segmen Bisnis

Kontribusi Pendapatan

Keterangan

Golf

Rp 82,3 miliar

Tumbuh 28,7% berkat renovasi & penambahan fasilitas lapangan.

Real Estat

Rp 68,3 miliar

Kontribusi penjualan unit di kawasan premium.

Restoran (F&B)

Rp 19,0 miliar

Ditopang peningkatan kunjungan pegolf lokal & ekspatriat.

Lain-lain

Rp 12,0 miliar

Berasal dari layanan pendukung operasional lainnya.

Langkah perseroan melakukan renovasi lapangan terbukti sebagai investasi strategis yang mampu memperkaya pengalaman (user experience) bermain golf berstandar internasional, sehingga mengundang lebih banyak kunjungan.

2. Dinamika Sentul Golf Utama: Berkorban di Awal untuk Keuntungan Jangka Panjang

Meski Bali bersinar terang, proyek di kawasan Jawa Barat justru menunjukkan perlambatan sementara. Kontribusi dari proyek Sentul Golf Utama tercatat hanya sebesar Rp 33 miliar, atau anjlok drastis 68,4% yoy dibandingkan tahun sebelumnya.

Mengapa Pendapatan Sentul Merosot?

Bagi investor awam, penurunan 68% mungkin terlihat menakutkan. Namun, ini adalah bagian dari strategi transformasi kawasan. Saat ini, kawasan Sentul sedang dikembangkan menjadi area residensial raksasa bernama Sequoia Hills seluas 76 hektar. Proyek ini menggunakan skema Kerja Sama Operasi (KSO) dengan developer ternama, Trinitiland.

Dalam dunia akuntansi properti, pendapatan dari penjualan rumah tidak bisa dicatat secara sembarangan. GOLF menggunakan skema berikut:

·         Pada setiap serah terima unit, GOLF hanya membukukan nilai pokok tanah sebagai pendapatan awal.

·         Potensi keuntungan besar (bagi hasil 50%) baru akan masuk ke kantong perusahaan pada tahap penyelesaian berikutnya.

Pada tahun 2025, GOLF baru memulai fase serah terima (handover) untuk klaster pertama bernama Leroy, yang menghasilkan pengakuan pendapatan sebesar Rp 11 miliar.

Sebagai perbandingan, pada tahun 2024 pendapatan dari Sentul terlihat besar (Rp 67,8 miliar) karena adanya transaksi langsung penjualan lahan seluas 19 hektar kepada Trinitiland dengan total kontrak Rp 150 miliar.

(Catatan: Hingga akhir 2025, pendapatan yang diakui dari transaksi lahan ini sudah mencapai Rp 112,5 miliar, menyisakan Rp 37,5 miliar yang belum dicatat).

3. Bedah "Bottom Line": Mengapa Laba Bersih Turun?

Tingginya pendapatan ternyata tidak langsung bermuara pada keuntungan yang tebal. Dari sisi bottom line, laba bersih perseroan tahun 2025 terkoreksi menjadi Rp 51,8 miliar, atau turun 23,3% yoy dibandingkan laba tahun 2024 sebesar Rp 67,5 miliar.

Penurunan laba ini sejatinya dipicu oleh kenaikan beban operasional. Sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku (PSAK), pengakuan biaya pemasaran (marketing expense) untuk penjualan real estat baru dicatatkan sejalan dengan dimulainya serah terima unit. Dengan kata lain, GOLF sedang membayar biaya "bakar uang" untuk promosi properti Sequoia Hills yang keuntungannya baru akan dipanen secara maksimal di tahun-tahun mendatang.

4. Agresivitas Ekspansi dan Belanja Modal (Capex) 2025

GOLF membuktikan diri sebagai emiten yang tidak mudah puas. Sepanjang 2025, perusahaan telah merealisasikan Belanja Modal (Capital Expenditure/Capex) sebesar Rp 202,5 miliar. Dana segar ini mayoritas disuntikkan untuk mempercantik dan memperluas kawasan New Kuta Golf.

Gebrakan Hotel Mewah Banyan Tree

Langkah paling ambisius terjadi pada Oktober 2025, di mana GOLF memulai proses groundbreaking proyek Banyan Tree Pecatu Bali Hotel. Dibangun di atas tebing eksotis yang menghadap langsung ke perairan Samudra Hindia, hotel mewah yang dikelola operator global Banyan Tree ini diproyeksikan menjadi mesin pencetak pendapatan berulang (recurring income) yang kuat bagi perusahaan di masa depan.

5. Proyeksi dan Strategi Masa Depan (Tahun 2026)

Lantas, bagaimana GOLF menavigasi bisnis di tahun 2026? Dwi Febri Astuti menegaskan bahwa fokus utama manajemen saat ini adalah eksekusi yang cepat dan presisi.

"Ke depan, fokus kami adalah mempercepat serah terima unit yang telah terjual, menjaga kualitas operasional lapangan golf, serta mengoptimalkan kontribusi dari fasilitas baru," ungkap Dwi.

GOLF akan mengusung konsep Kawasan Terintegrasi yang memadukan lapangan golf premium, properti mewah, dan hospitality yang tersebar di tiga titik strategis: Bali, Sentul, dan Belitung.

Inovasi Fasilitas Baru 2026:

1.      Hybrid Driving Range: Menghadirkan pusat hiburan golf modern yang memadukan teknologi pelacakan bola (seperti Topgolf) untuk menjangkau segmen anak muda dan pemula.

2.      Komersial & Wedding Venue: Menggarap potensi bisnis pernikahan (destination wedding) mewah yang kian diminati turis mancanegara di Bali.

3.      Aktivasi Kawasan Belitung: Membangkitkan gairah pariwisata di Black Rocks Golf & Leisure Belitung dengan meluncurkan Laskar Pelangi Beach Food Plaza dan Black Rocks Camping Ground.

Melalui orkestrasi bisnis yang matang ini, manajemen PT Intra GolfLink Resorts Tbk (GOLF) sangat optimistis bahwa transformasi yang sedang berjalan akan mengubah aset lapangan golf mereka menjadi destinasi pariwisata terpadu, yang pada akhirnya akan mendongkrak profitabilitas perusahaan secara berkelanjutan di masa mendatang.

Posting Komentar untuk "Pendapatan GOLF naik 8,9% sepanjang 2025, ditopang lapangan New Kuta Golf Bali"