Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Multivision (RAAM) Rights Issue 1,36 Miliar Saham, Bidik 50 Bioskop Baru

Multivision (RAAM) Rights Issue 1,36 Miliar Saham, Bidik 50 Bioskop Baru

Manuver Agresif RAAM 2026: Terbitkan 1,36 Miliar Saham Baru Demi Bangun 50 Bioskop Baru!

Sobat Berita, JAKARTA – Halo, Sobat Investor dan penikmat industri hiburan Tanah Air! Kabar mengejutkan sekaligus menarik datang dari raksasa industri perfilman Indonesia. PT Tripar Multivision Plus Tbk, atau yang di bursa saham lebih akrab disapa dengan kode RAAM, baru saja mengumumkan rencana aksi korporasi besar-besaran di tahun 2026 ini.

Bagi kamu yang belum tahu, RAAM adalah "mesin" di balik banyaknya sinetron legendaris dan film-film box office Indonesia, yang dinakhodai oleh produser kawakan, Raam Punjabi. Kini, mereka berencana mencari suntikan dana segar melalui skema Rights Issue atau Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD).

Mari kita bedah tuntas rencana raksasa hiburan ini, mulai dari strategi ekspansi bioskop mereka, risiko bagi investor, hingga membedah rapor keuangan mereka yang sedang dalam fase pemulihan.

Membedah Skema Rights Issue RAAM: Apa Artinya Bagi Investor?

Dalam keterbukaan informasi terbarunya pada akhir Maret 2026, manajemen RAAM menyatakan akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 1,36 miliar lembar saham baru. Angka ini bukan jumlah yang kecil, lho! Jumlah tersebut setara dengan 20% dari total modal yang ditempatkan dan disetor penuh oleh perseroan saat ini.

Sebagai ilustrasi sederhana, saat ini jumlah saham RAAM yang beredar adalah 6,81 miliar lembar dengan nilai nominal Rp60 per saham. Dengan menerbitkan 1,36 miliar saham tambahan, RAAM sedang "memperbesar porsi kue" perusahaan mereka untuk mendapatkan modal baru tanpa harus meminjam uang ke bank yang biasanya membebani perusahaan dengan bunga tinggi.

Awas "Jebakan" Dilusi 16,67%

Bagi kamu yang saat ini sudah memegang saham RAAM, ada satu hal penting yang harus diperhatikan: Dilusi Kepemilikan.

Dilusi itu ibarat kamu punya 1 potong pizza dari total 10 potong (kamu punya 10%). Tiba-tiba, pizzanya dipotong lagi jadi 20 bagian, tapi kamu tidak mau beli potongan tambahannya. Porsi kamu tetap 1 potong, tapi sekarang persentasenya mengecil.

Manajemen RAAM memberikan peringatan keras (disclaimer): "Apabila pemegang saham perseroan tidak melaksanakan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) yang menjadi haknya, maka akan mengalami dilusi kepemilikan sampai sebanyak-banyaknya sebesar 16,67%." Artinya, kalau kamu pemegang saham lama dan tidak ikut menebus saham baru ini, persentase kepemilikan dan hak suaramu di perusahaan akan otomatis tergerus.

Peta Kekuatan Pemegang Saham RAAM Saat Ini

Siapa saja penguasa saham RAAM sebelum rights issue ini terjadi?

·         Raam Jethmal Punjabi (Pengendali): 67,50% (4,59 miliar saham)

·         Masyarakat (Publik): 22,73% (1,54 miliar saham)

·         PT MNC Digital Entertainment Tbk: 9,09%

·         PT Tripar Multi Image: 0,68%

Dengan struktur ini, arah kebijakan perusahaan masih sangat kuat berada di tangan sang pendiri. Namun, porsi publik yang mencapai 22% membuktikan bahwa saham ini cukup likuid dan diminati ritel.

Mengalir ke Mana Dana Triliunan Nanti?

Tentu pertanyaan terbesarnya adalah: Untuk apa RAAM meminta uang sebanyak itu kepada investor? Dalam dunia bisnis, menerbitkan saham baru adalah hal yang positif JIKA uangnya digunakan untuk ekspansi, bukan sekadar untuk bayar utang. Untungnya, RAAM memiliki dua rencana ambisius yang sangat berorientasi pada pertumbuhan (growth-oriented):

1. Amunisi Produksi Film & Pemasaran (Modal Kerja)

Pos pertama akan difokuskan untuk "dapur" utama mereka. Membuat film berkualitas layar lebar di era sekarang membutuhkan biaya yang fantastis—mulai dari bayaran aktor, kru, peralatan kamera mutakhir, efek CGI, hingga biaya pemasaran yang masif. Dana ini juga akan disiapkan untuk berinvestasi pada bidang usaha lain yang masih sejalan dan bisa mendukung ekosistem bisnis RAAM.

2. Agresif Membangun 50 Bioskop "Platinum Sinema"

Ini adalah katalis utama yang paling menarik! Sebagian besar dana akan disuntikkan ke anak usaha mereka, PT Platinum Sinema. Tujuannya sangat jelas: Membangun dan mengoperasikan 50 teater (bioskop) baru yang tersebar di berbagai kota di Indonesia.

Penjelasan Bisnis: Mengapa ini penting? Dalam industri film, menguasai rantai distribusi adalah kunci. Selama ini produser film sangat bergantung pada jaringan bioskop milik pihak lain (seperti XXI atau CGV) untuk menayangkan film mereka, yang tentu saja keuntungannya harus dibagi dua. Dengan membangun 50 bioskop sendiri, RAAM menciptakan ekosistem bisnis hulu ke hilir yang solid. Mereka yang buat filmnya, mereka juga yang jual tiket dan popcorn-nya!

Kapan Ini Terjadi? Tunggu RUPSLB!

Semua rencana megah ini tidak bisa berjalan tanpa restu pemegang saham. Oleh karena itu, RAAM akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Selasa, 5 Mei 2026. Jika disetujui, RAAM punya waktu maksimal 12 bulan untuk mengeksekusi rights issue ini.

Catatan: Sampai artikel ini ditulis, RAAM belum mengumumkan di "harga berapa" saham baru ini akan dijual (Harga Pelaksanaan).

Mengintip Rapor Keuangan RAAM: Masih Rugi, Tapi Ada Titik Terang!

Janji ekspansi yang manis tentu harus divalidasi dengan kondisi fundamental keuangan perusahaan saat ini. Sayangnya, rapor RAAM (berdasarkan laporan per September 2025 yang diaudit) masih menunjukkan sejumlah tantangan berat.

Pendapatan Susut, Sinetron Nol Pemasukan

Selama 9 bulan pertama di tahun 2025, RAAM membukukan pendapatan sebesar Rp145,42 miliar. Angka ini sebenarnya turun 12,82% secara tahunan (YoY) dibandingkan periode yang sama di tahun 2024 yang mencapai Rp166,81 miliar.

Mari kita bedah dari mana uang RAAM berasal:

·         Segmen Film (Tulang Punggung): Menyumbang 45,54% total pendapatan atau sekitar Rp66,23 miliar. Sayangnya, segmen ini sedang loyo, turun 20,17% dibanding tahun lalu.

·         Penjualan Tiket & TV Berbayar: Mulai bangkit, tumbuh masing-masing 23,17% dan 16,25%.

·         Makanan & Minuman (F&B): Ini dia bintang utamanya! Penjualan F&B melesat tajam 56,76% menjadi Rp16,71 miliar. (Ilustrasi: Ini membuktikan mengapa RAAM ingin buka 50 bioskop baru. Jualan popcorn dan minuman di bioskop itu margin keuntungannya sangat tebal!).

·         Sinetron: Mengejutkannya, tidak ada pendapatan sama sekali (Rp0) dari segmen ini di periode tersebut.

Beban Membengkak, Laba Kotor Tergerus Habis

Tantangan terbesar RAAM saat ini adalah mengontrol pengeluaran. Saat pendapatan turun, Beban Pokok Penjualan mereka malah membengkak dari Rp95,42 miliar menjadi Rp126,00 miliar. Beban Umum dan Administrasi juga ikut naik menjadi Rp81,87 miliar.

Dampaknya? Laba kotor (laba sebelum dipotong pajak dll) anjlok parah hingga 72,79% tersisa hanya Rp19,42 miliar saja.

Titik Terang: Kerugian Mulai Menyusut

Meski terdengar suram, sebenarnya ada progres positif yang patut diapresiasi investor. Setelah dihitung semua, beban, dan pajak, RAAM berhasil memangkas kerugian secara signifikan. Pada periode Januari-September 2024, mereka rugi berdarah-darah hingga Rp112,58 miliar. Namun, di periode yang sama tahun 2025, kerugian itu berhasil ditekan dan menyusut drastis menjadi "hanya" Rp20,29 miliar. Ini menunjukkan efisiensi operasional mulai berjalan meski pendapatan belum maksimal.

Kondisi Neraca Keuangan (Balance Sheet)

·         Total Aset: Rp1,65 triliun (Turun dari Rp1,71 triliun di Des 2024).

·         Total Liabilitas (Utang): Rp343,15 miliar (Turun dari Rp385,05 miliar). Penurunan utang ini adalah sinyal bagus bahwa keuangan perusahaan semakin sehat.

·         Ekuitas (Kekayaan Bersih): Rp1,31 triliun.

Struktur modal RAAM terbilang sangat aman karena ekuitasnya jauh lebih besar dibandingkan utangnya. Inilah alasan mengapa mereka berani melakukan rights issue; fondasi mereka kuat, mereka hanya butuh tambahan "bensin" untuk berlari kencang.

Kesimpulan: 

Langkah RAAM menggelar Rights Issue di pertengahan 2026 ini adalah manuver klasik "High Risk, High Reward". Menggeser fokus dari sekadar "membuat film" menjadi "menguasai bioskop" melalui jaringan Platinum Sinema adalah strategi cerdas untuk mengamankan cash flow jangka panjang (terutama dari tiket dan jualan makanan).

Tugas berat manajemen saat ini adalah meyakinkan investor di RUPSLB Mei nanti bahwa dana triliunan rupiah ini benar-benar bisa membalikkan keadaan dari "Perusahaan Rugi" menjadi "Perusahaan Cuan" di tahun-tahun mendatang.

Bagaimana Sobat Investor? Tertarik untuk ikut menebus saham rights issue RAAM nanti? Tetap lakukan riset (DYOR) sebelum mengambil keputusan finansial, ya!


Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Sobat Beritatidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Posting Komentar untuk "Multivision (RAAM) Rights Issue 1,36 Miliar Saham, Bidik 50 Bioskop Baru"