Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ikhtiar menjaga Toba dari akar, Kapolres Samosir dan KPKC OKPM tanam 620 pohon di Partukko Naginjang

Aksi Hijau di Lereng Toba: Menanam Harapan, Merawat Kehidupan

Di perbukitan Partukko Naginjang, Samosir, angin berembus pelan menyibak di antara batang-batang muda yang baru saja ditanam. Tanah yang masih lembap menyimpan jejak kaki para peserta yang sejak pagi berdatangan, membawa bibit pohon dan harapan untuk masa depan. Pada Sabtu, 28 Maret 2026, sekitar pukul setengah sebelas pagi, sebuah kegiatan penting dimulai. Tanpa seremoni yang berlebihan, hanya lantunan lagu kebangsaan, beberapa sambutan singkat, dan kemudian tangan-tangan yang sigap bekerja.

Aksi penanaman 620 pohon ini digagas oleh Yayasan Keadilan Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan Ordo Kapusin Provinsi Medan (KPKC OKPM). Kegiatan ini bertepatan dengan Tahun Yubileum Santo Fransiskus Assisi, seorang santo yang dikenal karena kecintaannya pada alam.

Namun, suasana yang tercipta lebih terasa seperti kerja bersama daripada sebuah perayaan formal. Di lereng bukit tersebut, aparat kepolisian, rohaniwan, pejabat pemerintah, dan masyarakat setempat bahu-membahu, berdiri di ketinggian yang sama, menanam bibit-bibit di lubang-lubang yang telah disiapkan.

Kapolres Samosir, AKBP Rina Sry Nirwana Tarigan, terlihat beberapa kali menunduk, memastikan setiap bibit tertanam dengan rapi. Beliau mengaku baru tiga bulan bertugas di Samosir, namun waktu yang singkat itu sudah cukup baginya untuk menyaksikan perubahan yang mengkhawatirkan. Permukaan air Danau Toba, ujarnya, mulai menunjukkan tren penurunan. Populasi ikan red devil semakin mendominasi, sementara ikan-ikan endemik asli mulai terdesak. Dari kejauhan, hutan tampak hijau, namun di dalamnya, kerapuhan mulai terasa.

“Saya sudah jatuh cinta dengan tempat ini,” ungkapnya singkat. “Artinya, saya harus melakukan yang terbaik untuk menjaganya.” Pernyataan ini bukan sekadar ungkapan perasaan pribadi semata. Beliau menegaskan bahwa dukungan terhadap upaya penghijauan akan disertai dengan penegakan hukum yang tegas, terutama terhadap praktik penebangan liar yang semakin mempercepat laju kerusakan kawasan. Baginya, menjaga kelestarian hutan bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga merupakan langkah preventif untuk mencegah bencana alam yang dampaknya akan langsung dirasakan oleh masyarakat.

Di sisi lain, Anggota Komisi XIII DPR RI, Rapidin Simbolon, menyoroti pentingnya Danau Toba sebagai lanskap strategis yang tidak dapat dipisahkan dari kepentingan nasional. Kehadirannya dalam kegiatan ini, ia tekankan, bukan dalam kapasitas politik, melainkan sebagai bentuk kepedulian pribadi terhadap kondisi lingkungan yang menurutnya semakin tertekan.

Suara keprihatinan serupa juga datang dari para pegiat lingkungan. Wilmar Eliezer Simanjorang mengingatkan kembali akan fungsi vital hutan sebagai penyangga kehidupan yang seringkali terabaikan, hingga kerusakan menjadi semakin nyata dan sulit diatasi. Sementara itu, Pastor Guido Situmorang menggarisbawahi sebuah relasi yang sangat sederhana namun krusial: hutan yang rusak akan mengganggu ketersediaan air, dan pada akhirnya, seluruh kehidupan pun akan ikut terancam.

Bagi KPKC OKPM, aksi penanaman pohon ini merupakan bagian dari upaya jangka panjang yang lebih besar. Tujuannya adalah untuk memulihkan lahan-lahan kritis sekaligus membangun kesadaran ekologis di kalangan masyarakat. Ketua satgas KPKC OKPM, Pastor Walden Sitanggang, menyebut kerja ini sebagai sebuah ikhtiar untuk menjaga harmoni antara manusia dan alam, sebuah keseimbangan yang di kawasan Danau Toba, kini semakin terasa mendesak untuk dipulihkan.

Peran Aktif Masyarakat Adat dan Pilihan Bibit Strategis

Di antara para peserta, masyarakat adat juga turut mengambil peran penting. Ketua AMAN Tano Batak, Jhantoni Tarihoran, menilai bahwa penanaman pohon ini bukan sekadar program konservasi biasa. “Ini adalah bagian dari upaya menjaga kehidupan yang telah diwariskan oleh para leluhur,” ujarnya. Bagi masyarakat adat, tanah bukan hanya sekadar ruang fisik, melainkan sumber kehidupan yang harus dirawat dan dijaga kelestariannya.

Jenis pohon yang ditanam pun beragam, mencakup kemenyan, beringin, mahoni, jengkol, hingga durian. Pemilihan jenis pohon ini dilakukan dengan cermat. Sebagian dipilih karena nilai ekologisnya yang tinggi untuk memulihkan kesehatan lahan, sementara sebagian lainnya dipilih karena nilai ekonominya yang dapat memberikan manfaat langsung bagi kesejahteraan masyarakat sekitar. Kombinasi ini mencerminkan sebuah pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pemulihan alam, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan hidup dan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan Danau Toba.

Menjelang pukul satu siang, kegiatan penanaman pun berakhir. Lereng bukit yang tadinya tampak lengang, kini dihiasi oleh ratusan titik hijau baru dari bibit-bibit yang tertanam. Tentu saja, tidak ada jaminan bahwa semua bibit tersebut akan tumbuh dan bertahan hidup. Namun, di tempat itu, setidaknya, sebuah upaya nyata telah dimulai. Sebuah kesadaran telah terbangun bahwa menjaga kelestarian Danau Toba tidak cukup hanya dengan sekadar wacana dan diskusi. Tindakan konkret, kolaborasi, dan kepedulian bersama adalah kunci untuk memastikan masa depan yang lebih baik bagi salah satu keajaiban alam Indonesia ini.

Posting Komentar untuk "Ikhtiar menjaga Toba dari akar, Kapolres Samosir dan KPKC OKPM tanam 620 pohon di Partukko Naginjang"