Akademisi UI minta kebijakan WFH untuk tekan konsumsi BBM diawasi ketat: Jangan sampai jadi liburan
Strategi WFH untuk Tekan Konsumsi BBM: Solusi Efektif atau Sekadar Wacana?
Sobat Berita, JAKARTA - Tengah terjadi dinamika serius dalam sektor energi
nasional. Pemerintah Indonesia saat ini sedang menimbang kebijakan Work From Home (WFH) sebagai
instrumen utama untuk menekan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM). Langkah ini
diambil menyusul gejolak harga minyak mentah dunia yang dipicu oleh ketegangan
geopolitik di Timur Tengah.
Namun, apakah sekadar memindahkan ruang kerja ke rumah
cukup untuk menyelamatkan APBN?
Pengawasan Ketat: Kunci Keberhasilan WFH
Akademisi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Indonesia (FEB UI), Telisa Aulia
Falianty, memberikan catatan kritis terkait wacana ini. Menurutnya, WFH
memiliki potensi besar untuk menghemat energi, namun hanya jika disertai dengan
sistem pengawasan yang ketat.
Risiko "Wisata Terselubung"
Telisa menyoroti celah di mana WFH justru bisa menjadi
bumerang. Tanpa pemantauan, masyarakat dikhawatirkan memanfaatkan waktu
fleksibel tersebut untuk bepergian atau berwisata.
·
Logikanya sederhana: Jika pekerja tidak ke kantor
tetapi justru pergi ke pusat perbelanjaan atau destinasi wisata, maka volume
penggunaan kendaraan pribadi tetap tinggi.
· Dampaknya: Tujuan penghematan energi dari sektor rumah tangga gagal tercapai, dan konsumsi BBM tetap berada di level yang mengkhawatirkan.
Urgensi Realokasi Anggaran dan Penyelamatan APBN
Selain kebijakan WFH, Telisa mendorong pemerintah untuk
lebih berani dalam melakukan realokasi
anggaran. Di tengah ancaman krisis, prioritas fiskal harus digeser demi
menjaga ketahanan energi nasional.
Mengkaji Program Prioritas
Salah satu poin menarik yang disampaikan adalah
kemungkinan memangkas sebagian kecil anggaran dari program jumbo, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Mungkin sepuluh persennya saja yang
direalokasi. Artinya tidak mengganggu kepada tujuan prioritas nasional, namun
memberikan napas bagi sektor energi," ungkap Telisa.
Pemerintah dituntut cermat dalam menjaga keseimbangan fiskal. Menaikkan harga BBM subsidi dipandang sebagai langkah terakhir (last resort) yang sebisa mungkin dihindari. Target utamanya adalah mencari solusi win-win solution agar roda ekonomi tetap berputar tanpa membebani APBN secara berlebihan.
Mengapa Indonesia Terancam Krisis Energi?
Penyebab utama dari urgensi ini adalah ketegangan di
Selat Hormuz, jalur distribusi minyak paling vital di dunia yang terancam
ditutup akibat konflik Iran. Hal ini memicu efek domino di kawasan Asia
Tenggara:
|
Negara |
Kenaikan Harga BBM |
Catatan |
|
Kamboja |
10% |
Harga mencapai USD 1,05 per
liter |
|
Vietnam |
6% - 8% |
Sangat dipengaruhi fluktuasi
MOPS |
|
Filipina |
Signifikan |
Penyesuaian harian berbasis
pasar Singapura |
Indonesia, sejauh ini, masih menahan harga BBM agar tetap stabil. Namun, ketergantungan pada Mean of Plot Singapore (MOPS) sebagai acuan harga retail di Asia membuat posisi Indonesia cukup rentan jika harga minyak dunia terus melambung.
Simulasi Dampak: Apakah WFH Benar-Benar Ampuh?
Pemerintah saat ini tengah menyiapkan skema WFH bagi
Aparatur Sipil Negara (ASN) minimal satu hari dalam sepekan. Jika skema ini
diperluas ke sektor swasta, diprediksi akan ada penghematan yang signifikan.
Ilustrasi
Penghematan:
Jika seorang pekerja menempuh jarak 20 km pulang-pergi
setiap hari, maka dalam satu hari WFH, ia menghemat sekitar 1.5 hingga 2 liter
BBM. Dalam skala nasional, kebijakan ini diklaim mampu menghemat konsumsi BBM hingga 20%.
Namun, efektivitas ini tetap menjadi perdebatan hangat. Apakah 20% tersebut benar-benar hilang dari konsumsi nasional, atau hanya berpindah dari "perjalanan kerja" menjadi "perjalanan hiburan"? Inilah yang menjadi tantangan besar bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan yang tidak hanya indah di atas kertas, tapi juga tajam dalam implementasi.



Posting Komentar untuk "Akademisi UI minta kebijakan WFH untuk tekan konsumsi BBM diawasi ketat: Jangan sampai jadi liburan"