Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

ONE Championship - gagal di timbangan dianggap penghinaan, silat lidah Kaito Ono dan Marat Grigorian akan tuntas di ONE Samurai 1

Sobat BeritaRivalitas panas antara Marat Grigorian dan Kaito Ono akhirnya akan mencapai titik klimaksnya di panggung ONE Samurai 1. Pertarungan kelas bulu kickboxing ini dijadwalkan berlangsung pada 29 April 2026 di Ariake Arena, sebuah venue modern di Tokyo yang kerap menjadi tuan rumah ajang olahraga besar dan diperkirakan akan dipenuhi atmosfer panas dari para penggemar bela diri.

Awalnya, duel ini bukanlah rencana baru. Kedua petarung sebenarnya sudah dijadwalkan bertemu dalam ajang ONE 172 pada Maret tahun lalu. Namun, rencana tersebut runtuh akibat masalah klasik namun krusial dalam dunia combat sports: kegagalan memenuhi batas berat badan. Grigorian, petarung asal Armenia yang dikenal agresif, tercatat melebihi batas kelas bulu sekitar setengah kilogram. Meski terdengar sepele bagi orang awam, dalam dunia profesional, selisih sekecil itu bisa berdampak besar.

Sebagai solusi, tim Grigorian sempat menawarkan opsi “catchweight” atau kelas tangkapan, disertai kompensasi berupa pemotongan sebagian bayaran. Secara praktik, hal ini memang cukup umum terjadi di berbagai organisasi bela diri. Namun Ono menolak tanpa ragu. Keputusan tersebut bukan semata-mata soal angka di timbangan, melainkan soal prinsip.

Bagi banyak petarung Jepang, termasuk Ono, kegagalan timbang bukan sekadar kesalahan teknis seperti salah perhitungan diet atau dehidrasi. Ini menyentuh aspek yang lebih dalam: kedisiplinan dan rasa hormat. Dalam kerangka budaya Jepang, nilai-nilai ini berakar pada konsep Bushido—kode etik samurai yang menekankan integritas, tanggung jawab, dan komitmen penuh terhadap janji.

Sebagai ilustrasi, dalam banyak dojo tradisional Jepang, bahkan keterlambatan beberapa menit saja bisa dianggap sebagai bentuk ketidakhormatan. Maka, ketika seorang petarung gagal memenuhi berat badan yang telah disepakati, hal itu bisa dipandang sebagai bentuk pengabaian terhadap persiapan lawan yang telah berdisiplin ketat. Dalam konteks ini, keputusan Ono untuk mundur justru mempertegas identitas dan prinsipnya sebagai petarung.

Namun, sikap tersebut tidak diterima dengan baik oleh Grigorian. Emosi dan kekecewaan memuncak, hingga ia melontarkan kritik pedas di media sosial. Petarung berusia 34 tahun itu bahkan mempertanyakan mentalitas Ono, menyebutnya tidak mencerminkan semangat petarung Jepang sejati. Dalam komentar yang cukup kontroversial, ia menyindir Ono agar beralih ke olahraga lain seperti tenis atau bahkan menjadi balerina—sebuah pernyataan yang memperkeruh hubungan keduanya.

Menanggapi hal tersebut, Ono tetap tenang dan konsisten. Ia mengakui bahwa Grigorian adalah petarung hebat dengan prestasi mentereng, termasuk sebagai mantan juara di ajang K-1. Namun, ia menegaskan bahwa rasa hormat terhadap prestasi tidak berarti harus menerima tindakan yang dianggap tidak profesional.

Sejak insiden itu, jalur karier keduanya sempat berjalan terpisah. Grigorian, yang memiliki rekor impresif 69 kemenangan dan 14 kekalahan—termasuk enam kemenangan di ONE Championship—mencoba bangkit dari kekecewaannya. Ia menghadapi Rukiya Anpo dalam ajang ONE 173. Pertarungan tersebut menjadi bukti ketangguhannya: meski sempat tertekan di awal, ia berhasil membalikkan keadaan dengan kombinasi serangan bertubi-tubi di dua ronde terakhir, hingga akhirnya menang lewat keputusan mutlak.

Kemenangan itu tidak hanya memulihkan reputasinya, tetapi juga membuka kembali ambisinya untuk menghadapi sang juara bertahan, Superbon, dalam potensi trilogi yang sangat dinantikan penggemar. Namun sebelum melangkah ke sana, ia harus menyelesaikan “urusan lama” dengan Ono.

Di sisi lain, perjalanan Ono justru lebih berat. Petarung dari Team F.O.D. itu menjalani debutnya di ONE Championship melawan Mohammad Siasarani dalam ONE Friday Fights 109. Dengan pengalaman 59 kemenangan profesional, Siasarani terbukti menjadi lawan yang sangat tangguh.

Ono kesulitan mengimbangi tekanan dan volume serangan lawannya. Dalam kickboxing modern, volume serangan—yakni jumlah pukulan dan tendangan yang dilancarkan—sering menjadi faktor penentu dalam penilaian juri. Meski Ono sempat menunjukkan perlawanan di ronde ketiga, upayanya belum cukup untuk membalikkan keadaan. Ia pun harus menerima kekalahan lewat keputusan mutlak.

Hasil tersebut menempatkannya dalam posisi sulit. Namun justru dari tekanan itu muncul motivasi baru. Menghadapi Grigorian kini bukan hanya soal pertandingan biasa, melainkan kesempatan untuk membuktikan bahwa prinsip yang ia pegang bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan.

Pertarungan pada 29 April nanti akan menjadi lebih dari sekadar duel teknik dan strategi. Ini adalah benturan dua filosofi: agresivitas dan ambisi tanpa kompromi dari Grigorian, melawan disiplin dan kehormatan ala bushido yang dijunjung tinggi oleh Ono.

Sebagai tambahan, ajang ONE Samurai 1 juga akan menghadirkan laga utama yang tak kalah menarik, yakni perebutan sabuk interim kelas terbang kickboxing antara Rodtang Jitmuangnon dan Takeru Segawa. Kehadiran dua laga besar ini membuat event tersebut diprediksi menjadi salah satu yang paling spektakuler di tahun 2026.

Dengan semua latar belakang konflik, nilai budaya, serta ambisi pribadi yang terlibat, pertarungan Grigorian vs Ono bukan hanya tentang siapa yang menang atau kalah. Ini adalah cerita tentang harga diri, prinsip, dan pembuktian—sesuatu yang membuat dunia bela diri selalu menarik untuk disaksikan.

Posting Komentar untuk "ONE Championship - gagal di timbangan dianggap penghinaan, silat lidah Kaito Ono dan Marat Grigorian akan tuntas di ONE Samurai 1"