Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hendropriyono kenang mantan Menhan Juwono Sudarsono: Sipil yang berjiwa militan

Hendropriyono kenang mantan Menhan Juwono Sudarsono: Sipil yang berjiwa militan
Ringkasan Berita:
  • Hendropriyono kenang Juwono Sudarsono Sebagai Menteri Pertahanan pertama dari kalangan sipil
  • Juwono Sudarsono disebut memiliki pengaruh yang sangat besar dan membuat militer Indonesia lebih profesional
  • Juwono memberikan warisan pengetahuan yang luar biasa untuk generasi penerus

Mengenang Juwono Sudarsono: Sosok Sipil dengan Jiwa Militan di Dunia Pertahanan

Kehadiran Hendropriyono di Rumah Duka

Sobat Berita, JAKARTA - Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), AM Hendropriyono, tampak hadir melayat ke rumah duka almarhum Juwono Sudarsono. Kediaman duka berlokasi di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, dan didatangi sejumlah tokoh penting pada Sabtu malam (28/3/2026).

Dalam suasana penuh duka, Hendropriyono hadir dengan penampilan sederhana—mengenakan kaos yang dilapisi jaket abu-abu serta kopiah hitam beraksen emas. Kehadirannya bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk penghormatan mendalam terhadap sosok yang ia anggap sebagai tokoh penting dalam perjalanan pertahanan Indonesia.

Ia menyampaikan rasa kehilangan yang besar atas wafatnya Juwono. Menurutnya, kepergian tersebut bukan hanya dirasakan oleh keluarga, tetapi juga oleh bangsa Indonesia secara luas, khususnya di bidang pertahanan dan pemikiran strategis.

Sosok Juwono di Mata Hendropriyono

Pemimpin Sipil dengan Jiwa Militan

Hendropriyono mengenang Juwono sebagai figur yang unik—seorang sipil, tetapi memiliki semangat militansi yang kuat. Hal ini menjadi keunggulan tersendiri, karena dunia pertahanan yang identik dengan latar belakang militer justru diwarnai oleh perspektif baru dari seorang intelektual sipil.

Menurutnya, tidak semua orang berlatar belakang militer memiliki semangat militansi seperti yang dimiliki Juwono. Sebaliknya, Juwono mampu menunjukkan bahwa dedikasi, keteguhan prinsip, dan konsistensi berpikir adalah kunci utama dalam kepemimpinan, terlepas dari latar belakang seseorang.

Sebagai ilustrasi, dalam banyak negara modern, posisi Menteri Pertahanan sering diisi oleh kalangan sipil untuk menjaga keseimbangan antara kekuatan militer dan kontrol demokratis. Juwono menjadi contoh nyata bagaimana model ini dapat berjalan efektif di Indonesia.

Inspirasi di Dunia Akademik dan Militer

Salah satu warisan terbesar Juwono adalah dorongannya terhadap peningkatan kualitas intelektual di kalangan militer. Hendropriyono menuturkan bahwa sejak masa kepemimpinan Juwono, banyak anggota TNI mulai aktif menempuh pendidikan tinggi, bahkan hingga tingkat doktor dan profesor.

Fenomena ini menunjukkan perubahan paradigma: militer tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga unggul dalam pemikiran strategis dan akademik. Sebagai contoh, peningkatan jumlah perwira dengan gelar pascasarjana berdampak pada kualitas perencanaan pertahanan nasional yang lebih matang dan berbasis riset.

Hendropriyono bahkan mengakui dirinya termasuk salah satu yang terinspirasi oleh pemikiran Juwono dalam hal pengembangan intelektual tersebut.

Warisan Pemikiran untuk Generasi Mendatang

Lebih dari sekadar jabatan, Juwono meninggalkan warisan berupa gagasan dan cara berpikir yang relevan hingga kini. Ia dikenal sebagai sosok yang konsisten dalam prinsip, serta mampu melihat pertahanan negara dari sudut pandang strategis dan akademis.

Warisan ini menjadi pelajaran kolektif bahwa kepemimpinan tidak hanya diukur dari kekuasaan, tetapi juga dari kontribusi pemikiran yang berkelanjutan.

Perjalanan Hidup dan Karier Juwono Sudarsono

Riwayat Singkat Kehidupan

Juwono Sudarsono lahir pada 5 Maret 1942 dan wafat pada usia 84 tahun. Ia meninggal dunia di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan, setelah berjuang melawan stroke selama kurang lebih empat tahun.

Rencananya, almarhum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya kepada negara.

Kiprah di Pemerintahan

Karier Juwono di pemerintahan terbilang panjang dan beragam. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan dalam dua periode berbeda:

  • Era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bersama Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri (1999–2000)
  • Era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla (2004–2009)

Selain itu, ia juga pernah dipercaya oleh Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1998–1999), serta sempat menjabat Menteri Negara Lingkungan Hidup pada tahun 1998.

Tidak hanya di dalam negeri, Juwono juga berkiprah di dunia diplomasi sebagai Duta Besar Indonesia untuk Britania Raya pada periode 2003–2004.

Kontribusi Nyata bagi Indonesia

Selama kariernya, Juwono dikenal sebagai tokoh yang mendorong profesionalisme militer, penguatan hubungan sipil-militer, serta modernisasi pemikiran pertahanan. Ia juga aktif dalam berbagai forum internasional, memperkenalkan perspektif Indonesia dalam isu keamanan global.

Sebagai contoh, pendekatannya yang menekankan dialog dan kerja sama internasional membantu memperkuat posisi Indonesia di mata dunia sebagai negara yang menjunjung stabilitas dan perdamaian.

Penutup: Kehilangan yang Mendalam bagi Bangsa

Kepergian Juwono Sudarsono bukan hanya kehilangan seorang mantan pejabat negara, tetapi juga hilangnya seorang pemikir besar yang telah memberikan kontribusi signifikan bagi arah kebijakan pertahanan Indonesia.

Sosoknya menjadi bukti bahwa kepemimpinan tidak selalu lahir dari latar belakang militer, tetapi bisa tumbuh dari integritas, kecerdasan, dan dedikasi terhadap bangsa. Warisan pemikirannya akan terus hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi penerus Indonesia.

 

 

Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), AM Hendropriyono melayat ke rumah duka mantan Menteri Pertahanan (Menhan) Juwono Sudarsono di rumah duka, Jalan Alam Asri VIII Nomor 20, Pondok Indah, Jakarta Selatan, Sabtu (28/3/2026) malam.

Pantauan wartawan Sobat Berita, Abdi Ryanda Shakti, Hendropriyono terlihat datang dengan mengenakan kaos yang dibalut jaket berwarna abu dan kopiah hitam dengan aksen emas.

Hendropriyono menyampaikan duka yang mendalam atas meninggalnya Juwono Sudarsano.

Ia mengenang Juwono sebagai sosok yang berjiwa militan meski berlatarbelakang sipil.

"Saya sangat kehilangan dan beliau menjadi penjuru dulu. Meskipun seorang yang berlatarbelakang sipil penuh tapi jiwanya sangat militan," kata Hendropriyono.

Ia mengaku kagum dengan kiprah Juwono selama berkarir khususnya di pemerintahan.

Jiwa pemimpin yang dimiliki Juwono disebut Hendropriyono sangat terasa.

"Kalau saya sendiri dulu pernah di kabinetnya pak Harto kemudian juga di kabinet reformasi yang saya kira sama dengan teman-teman yang lain, sama-sama Menteri waktu itu mengagumi Juwono Sudarsono sebagai menteri yang pertama kali punya latar belakang sipil murni menjadi menteri pertahanan," ungkapnya.

Menurutnya, sebagai Menhan pada masanya, Juwono disebut Hendropriyono memiliki pengaruh yang sangat besar dan membuat militer Indonesia lebih profesional.

"Artinya bahwa tentara sejak saat beliau menjadi Menteri Pertahanan itu mulai banyak yang berkiprah di intelektual, di bidang akademik sehingga banyak sekali yang menjadi sarjana, Pascasarjana, doktor, profesor termasuk saya adalah pengikut beliau," ucapnya.

Meski begitu, Hendropriyono sangat bersyukur sosok Juwono memberikan warisan pengetahuan yang luar biasa untuk generasi penerus.

"Itu yang merupakan suatu pelajaran kolektif buat kita semua, bahwa belum tentu orang militer punya jiwa militansi seperti beliau dan sangat konsekuen di dalam pola pikir sebagai seorang pemimpin militer," ungkapnya.

"Alhamdulillah kita semua banyak diberi warisan, peninggalan tentang pemikiran beliau," sambung dia.

Mantan Menteri Pertahanan (Menhan) RI, Juwono Sudarsono, meninggal dunia di Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta Selatan pada Sabtu (28/3/2026) siang.

Ia meninggal dunia setelah berjuang melawan sakit stroke selama empat tahun.

Rencananya, jenazah almarhum akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan, pada Minggu (29/3/2026) besok.

Sosok Juwono Sudarsono

Juwono lahir pada 5 Maret 1942, dan meninggal dunia di usia 84 tahun.

Juwono menjabat sebagai Menhan RI di periode 29 Oktober 1999 hingga 26 Agustus 2000, di era pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri.

Jabatan Menhan kembali dijabatnya di periode 21 Oktober 2004 hingga 20 Oktober 2009, di era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla.

Dirinya juga pernah menjabat sebagai menteri di era pemerintahan Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie.

Yakni sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI periode 23 Mei 1998 hingga 20 Oktober 1999.

Dan pada 16 Maret 1998 hingga 21 Mei 1998, menjabat sebagai Menteri Negara Lingkungan Hidup RI.

Juwono juga pernah mengemban tugas sebagai Duta Besar Indonesia untuk Britania Raya periode 2003–2004, di era kepemimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri.

Posting Komentar untuk "Hendropriyono kenang mantan Menhan Juwono Sudarsono: Sipil yang berjiwa militan"